Asal Usul Hijab Pashmina

Jika dulu para wanita muslim Indonesia menggunakan jilbab hanya yang berbentung kerudung yang disampirkan di kepala, atau jilbab segiempat yang dikaitkan dengan jarum di bagian bawah dagu. Maka kini muncul hijab pashmina yang banyak digunakan oleh wanita muslim di Indonesia.

Pashmina merupakan kain panjang yang banyak digunakan untuk jilbab, namun ada juga yang menggunakannya sebagai selendang atau syal. Apabila dirunut dari asal muasalnya, tercatat bahwa pashmina berasal dari Kashmir, sebuah lembah yang ada di Himalaya barat. Pada abad ke-3 hingga abad ke-11, masyarakat di dataran kashmir memang banyak yang membuat sleendang dari bahan wol. Akan tetapi, industri tersebut baru secara resmi berdiri di Kashmir pada abad ke-15 Masehi dan diperkenalkan oleh penenun asal Asia Tengah bernama Zaynul Abidin.

Nama Pashmina sendiri berasal dari bahasa Persia yaitu Pashm yang berarti wol dari kambing changtangi atau pashmina. Kambing ini hanya ditemukan di Himalayan, Pakistan, Nepal, serta India Utara karena mereka hanya hidup dan tinggal di wilayah dataran tinggi yang dingin.

Produk pashmina sangatlah disukai oleh masyarakat negara tersebut karena bahannya yang hangat dapat menghindarkan tubuh dari rasa dingin. Selain itu, coraknya yang menawan juga bisa menjadi pelengkap penampilan bagi wanita.

Selama ini pashmina lebih dikenal sebagai kain panjang yang ukurannya lebih besar jika dibandingkan syal. Padahal, arti dari pashmina bukanlah itu, melainkan jenis material pembuatnya.

Pashmina merupakan jenis kain berserat yang dibuat dari bahan wol dan hanya diambil dari janggut domba yang ada di pegunungan Himalaya, tepatnya di daerah Ladakh, sebuah tempat yang letaknya berada di ketinggian 4.200 mdpl.

Janggut domba ini kemudian diambil, disisir, dan dipilih yang terbaik dengan cara tradisional sebelum kemudian ditenun oleh masyarakat yang tinggal di Nepal dan Lembah kashmir. Berbeda dengan di negara Nepal yang menyebut kain ini dengan nama Pashmina, maka di Kashmir kain ini disebut dengan wol kashmir. Akan tetapi, karena penggunaan selendang untuk kain ini semakin populer, maka masyarakat lebih banyak menyebut kain ini dengan nama pashmina.  

Dikarenakan banyaknya permintaan, kain tenun pashmina pun banyak dipasarkan ke luar wilayah India. Tak hanya yang berbentuk selendang, namun ada juga yang berbentuk selimut dengan harga yang mahal.

Sebenarnya tekstur pashmina sendiri halus seperti sutra, namun seiring perkembangan, pembuatan pashmina banyak dicampur dengan bahan lainnya agar lebih kuat ketika digunakan, salah satunya adalah dalam pembuatan hijab pashmina.  

Kain pashmina yang asli sebenarnya dibuat dengan proses manual, namun karena tingginya permintaan, banyak pula barang imitasi yang bermunculan. Bahkan kain yang bahannya tidak terbuat dari serat janggut domba himalaya pun disebut dengan nama pashmina.

Hal itu pula yang terjadi dengan hijab pashmina yang ada di Indonesia, ada pergeseran makna dalam menyebut jenis hijab ini. Jika awalnya hijab jenis pashmina adalah jenis kain tenun yang cukup tebal, namun kini hijab panjang dengan bahan apapun tetap disebut dengan pashmina.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *